Pernikahan itu melibatkan dua orang, seorang wanita dan pria. Kalau persiapan nikah pihak wanita itu ribet, sedangkan persiapan untuk pernikahan pihak pria itu jauh lebih praktis.
Terlebih lagi pada urusan administrasi, pihak pria tinggal mulai dari RT terus ke Kelurahan, dan terakhir minta surat numpang nikah ke KUA tempat lahir pihak pria.
Sesederhana itu, tapi tidak semua calon suami memahami dan ingin melakukannya sendiri. Apalagi gen-z, pasti tidak mau urusan ribet-ribet.
Maka dari itu, yuk simak persiapan berikut ini bagi calon suami.
Persiapan Pribadi Calon Pengantin Pria
Sebelum memulai, mending saya berikan kata-kata yang bagus buat calon suami yang mampir ke artikel ini.
Calon suami yang bijak memulai dari diri sendiri. Tidak hanya tampak siap dari luar, tetapi juga matang secara batin.
Beuhh, nyentuh banget tuh pasti. Makanya sekarang mulai siapkan semuanya, mulai dari;
1. Kesehatan Fisik dan Mental
Tak sedikit calon mempelai pria yang kelelahan secara fisik menjelang hari H karena harus mengurus semuanya sendirian. Untuk menghindari hal tersebut, lakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh ke klinik atau puskesmas terdekat.
Disamping itu, kamu juga masih perlu menjaga pola makan hingga mengelola stres merupakan hal yang tak boleh diabaikan oleh pria manapun yang sedang ingin menikahi wanita pujaan hatinya.
Apabila kamu dan pasangan merasa malu dalam bertanya-tanya ke orang sekitar, teman, atau dokter, coba deh ikuti konseling pranikah yang akan sangat membantu untuk menyamakan visi rumah tangga.
2. Penampilan Diri
Jangan menunggu sehari sebelum akad untuk memotong rambut atau mencukur jenggot. Rencanakan penampilan kamu secara menyeluruh, mulai dari potongan rambut rapi hingga pemotongan jenggot dan kumit 3 hari sebelum acaranya berlangsung.
Percayalah, kesan pertama pada hari pernikahan itu bisa memengaruhi suasana hati seharian bersama pujaan hati di bangku pelaminan. Hal ini upaya supaya sang istri merasa kagum melihat tampilan suami yang rapi dan berkelas.
3. Kesiapan Mental Menjadi Suami
Saya ada pertanyaan yang mendalam dan patut pria renungkan…
Apakah kamu sudah siap menjadi suami, bukan hanya sebatas pengantin?
Karena menjadi suami berarti bersedia memimpin, mendengar, mengalah, dan memikul tanggung jawab rumah tangga bersama istri.
Kematangan emosional bukanlah sesuatu yang muncul otomatis setelah akad lho. Maka dari itu, sebagai seorang calon suami harus mulai mempersiapkan untuk menjadi pemimpin yang penuh kasih dan bijaksana dalam setiap mengambil keputusan.
Persiapan Administratif dan Legalitas
Satu kesalahan kecil dalam dokumen bisa membuat jadwal akad berantakan. Maka dari itu, jangan tunggu hari H untuk memeriksa semuanya. Minimal 3 bulan sebelum acara berlangsung.
1. Dokumen Resmi
Bagi pihak pria, itu hanya perlu menyiapkan dokumen ini aja kok;
- Fotokopi KTP
- Fotokopi KK
- Fotokopi akta kelahiran
- Fotokopi ijazah terakhir
- Fotokopi buku nikah orang tua
- Foto ukuran 2×3 = 5 lembar, 4×6 = 1 lembar
- Surat pengantar dari RT/RW
Semua dokumen ini wajib kamu bawa untuk mengurus N1 hingga N4 di kelurahan. Pas di kelurahan kamu juga masih perlu mengisi surat keterangan belum menikah dan ditandatangani oleh tokoh masyarakat pria (gampang ini, bisa diakali aja kok).
Pastikan pula kamu telah berkoordinasi dengan calon istri untuk mengatur data mahar dan formulir sebelum ke KUA pihak wanita tinggal.
2. Koordinasi dengan KUA
Sudah tahu siapa penghuku yang akan menikahkan kamu? Di mana lokasi akad nikahnya? Siapa wali nikah yang sah secara hukum? Jangan mengira semuanya akan beres tanpa konfirmasi langsung.
Kamu perlu melakukan pengecekan jadwal dan administrasi dua minggu sebelum akad dimulai. Karena terkadang KUA itu lupa disebabkan oleh banyaknya jadwal menikahkan calon pasangan di seluruh kecamatan.
Persiapan Acara dan Logistik dari Pihak Pria
Persiapan dari sisi pria kerap dianggap lebih ringan. Padahal, bila ditelusuri, perannya sangat signifikan, terutama dalam hal logistik dan prosesi adat.
1. Lamaran dan Prosesi Adat (Jika Ada)
Dalam banyak budaya di Indonesia, pria dan keluarganya bertugas membawa rombongan lamaran, lengkap dengan simbol-simbol tertentu yang sarat makna.
Jangan sampai kamu datang tanpa tahu urutan acaranya. Jadi, harap koordinasikan dengan keluarga calon istri agar semuanya berjalan harmonis.
Tapi biasanya dari RW atau Dukuh setempat sudah tahu alur jalannya acara lamaran. Alhasil kamu tidak perlu bingung nanti alur acaranya seperti apa.
2. Penyusunan Seserahan
Tahukan kamu bahwa isi seserahan itu mencerminkan tanggung jawab pria kepada sang wanita calon istrinya? Untuk itu pemilihan seserahan wajib dilakukan oleh pria dan berkoordinasi langsung dengan calon istrinya.
Tapi seserahan itu tidak wajib harus banyak dan mahal. Sesuaikan saja dengan kemampuan pria dalam memberikan. Hal itu mencerminkan niat dan penghormatan kepada sang wanitanya.
3. Transportasi dan Akomodasi
Siapa yang akan membawa rombongan keluarga ke tempat akad atau resepsi? Apakah kamu menyewa kendaraan atau menggunakan mobil pribadi?
Semua itu harus kamu pastikan telah terhitung, termasuk rencana cadangan jika terjadi keterlambatan atau kendala di jalan.
Sebaiknya kalau mau sewa mobil itu dari kenalan yang punya mobil, bisa juga dari tetangga, pasti akan mau membantu. Nanti tinggal diberi ganti uang bensin aja.
Koordinasi dan Peran Keluarga
Pernikahan menyatukan dua keluarga, dan dari pihak pria, komunikasi serta kerja sama adalah kunci utama.
1. Pembagian Tugas Internal
Yuk berani tentukan siapa yang akan menjadi koordinasi logistik, siapa yang mewakili keluarga saat berbicara di acara, serta siapa yang bertugas mengurus dokumentasi.
Semakin rinci kamu membagi tugas ini dengan keluarga, maka akan semakin minim pula potensi kekacuan yang terjadi, dan meminimalisir kesalahan saat hari H nanti.
2. Pertemuan dengan Keluarga Calon Mempelai Wanita
Rapat bersama antara dua keluarga itu penting kamu lakukan. Baik untuk menyelaraskan teknis acara maupun hanya sekadar mempererat hubungan kedua keluarga.
Ingat, ini bukan hanya tentang kamu dan pasangan kamu. Tetapi juga kedua keluarga yang akan menjadi satu menjadi saudara.
Keuangan dan Komitmen Finansial
Salah satu penyebab konflik dalam rumah tangga adalah masalah uang. Maka dari itu, sebelum akad diucapkan, sebaiknya sudah ada kesepakatan.
1. Persiapan Mahar dan Biaya Lain
Awas ya, jangan sampai kamu itu tidak memberikan mahar apapun pada saat pernikahan. Sebab mahar itu sangat wajib dilakukan meski hanya sebatas uang sebesar 100 ribu.
Meski begitu, mahar adalah simbol jadi harus tetap dipikirkan dengan serius dan perencaan yang matang.
Selain itu, kamu masih perlu menyiapkan dana cadangan untuk hal-hal tak terduga menjelang atau sesudah pernikahan.
2. Transparansi Finansial dengan Pasangan
Sudahkah Anda dan pasangan saling membuka kondisi keuangan? Apakah ada rencana menabung bersama, membeli rumah, atau menyusun anggaran bulanan? Mulailah dari sekarang agar tidak bingung setelah menikah.
Awas aja kamu tidak terang-terangan masalah ekonomi kepada istri tercinta. Bisa-bisa nanti rejeki kamu akan seret dikemudian hari.
Close the door ya…
Pernikahan itu bukan garis finish yang berakhir begitu saja loh. Tetap ingat, ini merupakan titik awal dimana kamu harus memulai hidup bersama dengan istri.
Jangan pernah hanya fokus pada cara saja, tetapi juga pada kesiapan menjadi seorang suami dan kepala keluarga yang bisa membimbing istri serta anak-anakmu kelak.
Selain membimbing, suami juga perlu memiliki rasa tanggung jawab dan mau belajar untuk mengurus rumah tangga (jangan pernah jadi suami patriarki)
Ingat, menjadi suami berarti menjadi rekan hidup, pelindung, sekaligus sahabat terbaik untuk istri kamu. Dan itu semua dimulai dari persiapan hari ini, bukan besok.
Jadi, sejauh mana kamu mempersiapakn diri menjelang pernikahan ini wahai pria sejati?



